Selasa, 22 November 2016

KELAPARAN - terombang-ambing di lautan, hingga mati dalam pelarian. Itulah nasib yang harus dialami muslim Rohingya. Ditolak di negaranya, namun ikut diusir oleh negara-negara tetangganya, hingga para nelayan Aceh datang menyelamatkan mereka, dan juga seorang pemimpin aceh yang bernama mualem, juga ikut serta dalam kepeduliannya terhadap umat muslim dunia yang sedang membutuhkan bantuan dan kasih sayang.
Kisah rasa kemanusiaan nelayan dan pemimpin Aceh tersebut, menyelamatkan dan membantu pengungsi Rohingya patut kita acungi jempol. Di tengah krisis nurani para pemimpin negeri ini, mualem dan juga rakyat Aceh tampil dengan jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Mereka mengaku tidak rela membiarkan saudara seiman mereka kelaparan dan mati di lautan. Salah satunya dilakukan Muhammad Adenan. Nelayan asal Aceh ini menjelaskan keputusan menolong para pengungsi Rohingya didorong oleh rasa iba.
Saat melihat kapal Rohingya membutuhkan pertolongan, Adenan dan kawan-kawannya langsung bergerak mendekati mereka. Alasannya sederhana: karena mereka manusia!
“Saya membayangkan, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu akan sangat berharap dari pertolongan siapapun,” kata nelayan paruh baya ini.
Ironis, saat diselematkan, sekujur tubuh mereka mengalami luka-luka. Baik di punggung, kaki, dan tangan. Tubuh mereka pun tampak kurus dan tirus karena berbulan-bulan tak mendapat asupan makanan.

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Unordered List

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget