Minggu, 30 Oktober 2016

SEBUAH pesan masuk ke Black Berry Massangger (BBM) saya. Isinya adalah foto jadul yang lokasinya berada jauh dari Aceh, di Camp Tajura, Tripoli, Libya.

Belasan orang berpakaian loreng ala timur tengah berdiri rapi. Di sudut paling kanan, berdiri seorang bertubuh gagah, baju loreng yang dipakainya tampak berbeda dengan belasan pria lain di foto itu. Entah kenapa, sontak saja ingatan saya kembali ke masa lalu. Masa ketika perang Aceh masih bergejolak.

Ceritanya begini.

Suatu hari awal tahun 2001 silam. Beberapa lelaki berbaju kaos hitam dan bercelana loreng asik duduk santai. Meraka lelah. Wajar saja, sejak pukul 06.00 WIB tadi mereka digembleng latihan rutin di Markas Komando Piranha, di sebuah kawasan pedalaman Nisam, Aceh Utara. Saat itu, Camp Piranha dipimpin langsung oleh Panglima TNA Muzakir Manaf atau Mualem.

Seperti hari-hari biasa, usai latihan militer, para pejuang di Camp Piranha bergegas menuju sungai, membersihkan diri. Beberapa lainnya juga menyiapkan makan siang, membersihkan tempat tidur dan membersihkan senjata. Mereka dipandu langsung oleh senior-senior Komando Piranha seperti Nizar Muhammad atau Nek Dan, Muhktar alias Ableh, Abdul Hadi atau Adi Gondrong, atau, Pakeh, Gure Nasir dan alm Kawaket.

Saya terbilang prajurit baru yang dikirim dari Sagoe untuk menimba ilmu militer di Komando Piranha. Siang itu, bersama 30 orang rekan lainnya saya sedang menikmati teh tarik buatan alm Tgk Dun, juru masak terkenal di Komando Piranha. Ada juga roti tawar bermerek Unibis. Ini adalah makanan khas kami sehari-hari, pasukan didikan Manoek Meu Aneuk atau alm Ahmad bin Rasyid alias Ahmad Kandang. Kami duduk bercengkrama, di tengah belantara hutan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan.

Tiba-tiba saja, sebuah Mobil TAF Rocky berwarna biru gelap merengsek ke areal markas. Kami siap siaga, tapi tak ada satupun yang bereaksi, karena tentu itu bukan musuh. Jika itu musuh, tentu pasukan regu piket akan menghajar habis-habisan mobil biru gelap itu. Begitu mobil berhenti, ketegangan kami pecah menjadi tawa. “ha.. ha..ha..ha..ha…” ternyata bukan musuh.

“Gedubakk!” suara hentakan pintu mobil seolah perintah yang menghentikan tawa. Suasana tegang, tingkah kami kaku begitu sosok laki-laki tinggi besar itu turun dari mobil. Dia adalah Muzakir Manaf atau biasa kami sapa Syech, kadang juga Mualem, Panglima Tentara Nanggroe Aceh (TNA).

“Assalamualaikum..,”

“Waalaikumsalam,” jawab kami dengan nada tegang.

Kami benar-benar tak menyangka, Mualem hari itu akan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke markas Komando Piranha. Tanpa basi-basi, usai mengucap salam, Mualem bergegas menuju ke arah sungai. Di sana, beberapa orang senior kami sedang asyik mandi.

“Hoy! Ureung droneuh jak keunoe mandum!” bentak Mualem. Di saku celana kanannya, ada sepucuk pistol FN Six Soer berbalut plastik hitam.

“Bagah! Bareh dikeu lon!”

Delapan orang yang sedari tadi asyik mandi di sungai buru-buru menuruti perintah Mualem. Ia menanyakan apa yang sedang dilakukan prajuritnya itu di sungai. “Kami mandi dan ambil air wudhu untuk Zuhur,” jawab beberapa dia antara mereka.

“Puejuet mirah that aneuk mata! Sudah berapa jam kalian mandi?”

“Baru 20 menit, Mualem,” jawab salah seorangnya.

“Lalu apa yang ada di celana dalammu itu?!”

Sejenak suasana hening. Tak ada yang berani menjawab. Mualem memelototi satu persatu pasukannya yang bertelenjang dada itu. Beberapa saat kemudian salah seorang diantara mereka akhirnya menjawab pertanyaan Mualem. “Ga..ga..gaa..ganja Mualem…,”

Dari delapan orang yang disidak hari itu, tiga di antara mereka kedapatan menyimpan ganja di celana dalamnya. Dengan sikap kesal, Mualem mengintrogasi ketiga prajurit tersebut. Hasil pemeriksaan, diketahui bahwa ganja itu milik prajurit berinisial AY. Spontan Mualem langsung mengeluarkan perintah pecat secara tidak hormat terhadap AY.

“Mulai detik ini, kamu saya pecat!” bentak Mualem.

“Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!”

“Ini markas pejuang Aceh, bukan tempat hisap ganja, generasi mabuk tidak layak jadi pejuang. Ini bukan main-main! ini amanah, ini perjuagan harga diri bangsa. Kalian hisap ganja di kamando ini! Allahuakbarrrrrrrrr,” Mualem menghela nafas panjangnya dengan takbir. Tangannya menyapu seisi kepala seolah merasa bersalah mengetahui pasukannya ada yang mengkonsumsi narkoba jenis ganja.

AY lantas buru-buru mengemasi barang-barangnya ke dalam ransel, dan langsung pergi meninggalkan Camp Komando Piranha. Dari kejauhan Mualem memperhatikan langkah AY satu persatu, hingga AY hilang dari pandangan Mualem. Saya memperhatikan dengan seksama raut wajah Mualem. Matanya berkaca-kaca, air matanya berlinang. Meski merasa sedih harus memecat salah seorang pasukan yang selama ini setia bersamanya, namun aturan harus tetap dijalankan. Ia kemudian masuk ke mobil dan meninggalkan Camp Komando Piranha.

Begitulah sepenggal kisah kami di Komando Piranha, tempat ratusan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dilatih ilmu militer dan ideologi ke-Aceh-an. Disini kami digembleng langsung oleh petinggi-petinggi GAM dan TNA yang sudah terlebih dahulu memperoleh langsung ideologi keacehan dari sesepuh GAM, termasuk ada yang langsung menimba ilmu dari deklarator GAM, Tgk Hasan Muhammad di Tiro.

Nizar Muhammad atau Nek Dan adalah salah seorang senior yang selalu setia mendidik wawasan umum, sejarah, ideologi, dan strategis prang gerilia serta mengawasi setiap hari. Ia selalu mewanti-wanti agar kami tetap disiplin dan bersungguh-sungguh. Bila nanti kembali ketengah masyarakat, kami diajarkan agar tetap bisa diterima oleh masyarakat meski sehari-hari memanggul senjata.

Di Camp Piranha, kami dididik keras, tak pandang bulu. Mualem atau H. Muzakir Manaf yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh memang dikenal sebagai sosok yang tegas dan menjadi tauladan bagi bawahan-bawahannya. Sebagai Wakil Gubernur Aceh, Mualem kini menjadi pemimpin sipil yang tidak bisa diurus dengan aturan militer.

Dan saya percaya, Mualem masih seperti dulu ketika memimpin pasukan perjuangan Aceh. antipatinya terhadap narkoba masih ditunjukkan hingga sekarang, di setiap kesempatan, ia selalu menghimbau generasi muda Aceh untuk tidak terjabak dalam lingkaran setan pengaruh narkoba. “Berlatihlah, perkuat mental, tingkatkan disiplin dan jauhkan Narkoba,” tegas Mualem pada suatu kesempatan September 2014 lalu.[Catatan Imran Pase, eks pasukan Komando Piranha]

Sabtu, 29 Oktober 2016

Banda aceh - Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh periode 2017-2022, Muzakir Manaf-TA Khalid menyatakan komitmennya untuk melakukan perubahan bagi Aceh apabila pasangan ini terpilih.

Komitmen itu disampaikan dalam penyampain visi misi dan program kerja pasangan itu dalam sidang paripurna di DPRA, Jumat

(28/10/2016).

"Kamoe hana jak toh ek dalam kaca minyeuk angen,"  kata Mualem yang didampingi wakilnya, TA Khalid.

Mualem menyatakan, apabila terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Aceh pada Pilkada mendatang, pihaknya berjanji akan melakukan gebrakan dalam 100 hari kerja.

Mualem juga mengatakan, pihaknya akan membangun Aceh dengan 5 K.

Ke 5 K tersebut adalah, pertama, keimanan berlandaskan ahlus sunnah waljamaah bermazhab syafii. Kedua, kewenangan besar dalam mengelola "save government".

Ketiga, kemandirian ekonomi berbasis potensi unggulan lokal. Keempat, kapasitas SDM yang mampu mewujudkan kembali kejayaan peradaban dan keabadian perdamaian. Kelima, kelola pemerintah yang bersih dan melayani kepentingan rakyat.

Setelah menyampaikan 5 K, kemudian Mualem mempersilakan  wakilnya, TA Khalid untuk melanjutkan memaparkan visi misi dan programnya kutipan dari (Serambinews).

Kamis, 27 Oktober 2016

Rakanmualem.com-Menarik rasanya jika kita mengikuti perjalanan sejarah hubungan Iskandar Muda dengan negara- Negara non Muslim tempo dulu. Bahkan sebagian orang menganggap fator diplomasi pula yang mendongkrak nama Aceh dikenal seantero dunia pada waktu itu.

Tidak heran, jika H. Muzakir manaf atau akrab disapa Mualem, mengulang hal sama, dan kami rasa ini juga factor pedukung kemajuan Aceh masa mendatang. Tapi sayang sebagian malah menafsirkan dengan hal yang negative apa yang telah dilakukan Mualem baru-baru ini (baca: Mualem serahkan bendera kepada Kedubes Amerika Serikat), dalam kontek yang sama mereka malah memuji Iskandar Muda. Sepatutnya apa yang dilakukan Mualem perlu kita sepadankan kembali dengan apa yang dilakukan oleh Iskandar Muda.

Berikut negara-negara yang pernah menjalin hubungan dengan kerajaan Aceh di bawah kekuasaan Iskandar Muda. Mudah-mudahan kita tercerahkan.

Hubungan dengan Iggris

Pada abad ke-16, Ratu Inggris, Elizabeth I, mengirimkan utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam.” serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik “saudarinya” di Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar “Orang Kaya Putih”.

Sultan Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut cuplikan isi surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah kerajaan Inggris, tertanggal tahun 1585:

“Sayalah sang penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatra dan atas seluruh wilayah wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam.”

Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggris dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.

Hubungan dengan Belanda

Selain Kerajaan Inggris, Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje– juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ia dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri oleh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka dia dimakamkan dengan cara agama Nasrani di pekarangan sebuah gereja. Kini di makam dia terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard suami mendiang Ratu Juliana dan Ayah Yang Mulia Ratu Beatrix.

Hubungan dengan Utsmaniyah

Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang berkedudukan di Istanbul. Karena saat itu Sultan Utsmaniyah sedang gering maka utusan Kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersebut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Utsmaniyah mengirimkan sebuah bintang jasa kepada Sultan Aceh.meriam tersebut menurut informasi kini berada di desa Blang Balok kecamatan peureulak (sumber MAA Atim)

Hubungan dengan Perancis

Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang sangat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin tersebut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Denys Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligo Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran Sungai Krueng Aceh hingga mengaliri istananya (sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe). Di sanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.

ANGGOTA DPR Aceh, Darwati A. Gani menyambut baik pernyataan Ketua Umum Partai Aceh (PA) Muzakir Manaf yang meminta dewan mengutamakan kepentingan rakyat dalam membahas anggaran. Politisi Partai Nasional Aceh (PNA) ini hadir dalam acara Kupi Beungoh bersama seluruh anggota DPRA di tempat Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem di Blang Padang, Banda Aceh.

Darwati mengatakan, Mualem menunjukkan sikap yang benar-benar mencerminkan keperibadian sebagai pemimpin yang memihak kepada rakyat. "Saya sangat mendukung sikap Mualem yang benar-benar punya komitmen besar untuk mensejahterakan rakyat,” kata Darwati kepada ATJEHPOSTco.

“Selaku anggota dewan kita juga berharap agar setiap anggaran yang dikucurkan benar-benar diperuntukkan untuk kepentingan rakyat banyak, tidak memihak untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu," ujar.

Darwati juga menuturkan, usulan Mualem akan mampu dijalankan oleh setiap anggota dewan yang bersama-sama mengawasi segala kucuran dana agar tepat sasaran. Pasalnya, dengan adanya komitmen anggota dewan dalam mengawasi kucuran dana ini dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh.

"Ya apabila ada yang tidak wajar, kami akan minta dirasionalkan kembali sehingga anggaran itu benar-benar tepat sasaran," ujar istri Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh periode 2007-2012 ini lagi.

Diberitakan sebelumnya, Mualem, meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh untuk mencoret seluruh mata anggaran yang dianggap tak efektif, efisien serta tak memihak masyarakat. "Hana urusan ngon po nyoe po jeh (tidak ada urusan dengan orang ini orang itu --siapapun)," kata Mualem.  "Nyoe numpang mantong siat bak rumoh wagub (pinjam sebentar di rumah wagub)," kata Mualem yang saat ini adalah Wakil Gubernur Aceh. 

Pertemuan ini dihadiri para pimpinan DPR Aceh, seperti Teungku Muharuddin, Sulaiman Abda, Teuku Irwan Djohan, serta sejumlah ketua fraksi lainnya.“Meunyoe na mata anggaran hana memihak masyarat, Silahkan dicoret. Bek ragu-ragu. Nyoe lon peugah haba atas nama Ketua Umum Partai Aceh. Lokasi mantong di rumoh Wagub (Kalau ada mata anggaran yang tidak memihak raya, silahkan dicoret. Jangan ragu-ragu. Saya katakan atas nama Ketua Umum Partai Aceh),” kata Mualem dalam sambutannya.

Lhokseumawe -- Floresta PTE Limited, sebuah perusahaan asal Singapora direncanakan akan mengoperasikan kembali PT. Kertas Kraft Aceh. Hal itu diutarakan oleh Presiden Direktur Floresta, Jouko Virta, saat menggelar pertemuan dengan pemerintah Aceh, serta pihak direksi PT. KKA, di areal pabrik, Rabu (26/10).

Jouko menyebutkan, diperkirakan butuh waktu satu tahun untuk menghidupkan pabrik PT. KKA. Tentunya, hal itu setelah adanya keputusan dari pemerintah terkait kerjasama investasi tersebut. "Yang paling penting sekarang adalah kita menanam kembali hutan pinus sebagai bahan baku pembuatan kertas," ujar Jouko.

Jouko menyebutkan, dirinya hadir ke Lhokseumawe bersama 7 tim ahli independen sekaligus untuk menghitung besaran biaya yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kembali PT. KKA. Dalam perkiraan awal, total investasi mencapai 60 juta USD untuk pembiayaan menghidupkan kembali pabrik sekaligus pemeliharaan dan penanaman kembali pohon pinus.

Jouko mengatakan, pihaknya menawarkan opsi agar pabrik bisa lebih cepat difungsikan, di mana masyarakat nantinya akan dilibatkan untuk menanam tanaman pinus jenis merkusi. Jika itu terjadi, maka diperkirakan, ada 10 ribu lebih masyarakat akan menerima manfaat dari beroperasinya PT. KKA.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf yang ikut mendampingi rombongan investor, menyebutkan nantinya masyarakat ikut menanam pinus di lahan mereka, dan kayunya dijual kepada pabrik sebagai bahan baku pembuatan kertas. Hal tersebut sebagai bagian dari usaha pemerintah dan pihak swasta membuka lapangan kerja sehingga masyarakat ikut merasakan manfaat dari aktifnya PT. KKA.

"Kita sedang menilai bagaimana desain yang bagus yang nantinya bisa kita pakai. Tujuan dari program ini untuk menarik masyarakat terlibat dalam kegiatan ini dan tentunya mereka mendapatkan manfaatnya," ujar Muzakir Manaf.

Selain produksi kertas, Wagub juga menawarkan berbagai bentuk investasi lain yang juga bisa dikembangkan di Aceh. Aceh, kata Muzakir Manaf, kaya akan alamnya. "Kita punya sawit, potensi panas bumi, ikan segar serta potensi wisata yang mungkin juga bisa dikembangkan di Aceh," ujar wagub.

Menjawab hal itu, Jouko mengaku gembira atas kepercayaan pihak Pemerintah Aceh kepada mereka. Namun saat ini, kata Jouko, Floresta hanya akan fokus pada pengembangan PT.KKA. Nantinya, perusahaannya mengaku tertarik untuk berinvestasi pada pembuatan listrik dari bahan baku kayu atau biomass.

"Pada tahap selanjutnya mungkin bisa kita jajaki. Jika itu berhasil, pastinya masyarakat bisa menanam berbagai jenis kayu lainnya," ujar Jouko.

Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud al-Haytar, mengatakan, tujuan utama dari pelibatan Floresta sebenarnya adalah membangun kembali hutan-hutan Aceh yang mulai tandus tak berpohon. Hutan Aceh, katanya, punya potensi besar untuk pengembangan penanaman pinus jenis merkusi, pinus terbaik untuk pembangunan kertas.

Hutan Pinus Merkusi terbesar di Asia, kata Malik Mahmud, terletak di Aceh yaitu di Kabupaten Aceh Tengah. Ia menyebutkan pembangunan pohon pinus akan dilakukan secara paralel dengan pembangunan pabrik. Jika hal tersebut berhasil, maka diperkirakan akan ada 100 ribu hektar lahan (lahan pabrik dan lahan warga) dengan perkiraan 3000 tenaga kerja di pabrik serta puluhan ribu pekebun.

"Hutan lestari, masyarakat bisa merasakan manfaat dan pabrik bisa kita hidupkan kembali," ujar Malik Mahmud.

Sementara itu, Ir. Andriano Direktur Utama PT. KKA, menyebutkan sejak berhenti beroperasi pada akhir Desember 2007, tercatat ada 935 karyawan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kini, tercatat ada 80 karyawan yang masih bekerja yang bertugas merawat aset perusahaan.

"Sejak berhenti beroperasi, diputuskan untuk pemeliharaan saja dengan harapan pabrik ini bisa dioperasikan kembali. InsyaAllah dalam waktu dekat pabrik akan segera kita fungsikan kembali," ujar Andriano.

Rabu, 26 Oktober 2016

Banda Aceh - Ketua Laskar SURA Aceh, Teungku Zulkifli, mengatakan pihaknya komit mendukung Mualem-TA Khalid sebagai gubernur dan wakil gubernur Aceh di pilkada 2017. 

Hal ini diungkapkan Zulkifli seusai rapat pemenangan di kantor SURA Kota Banda Aceh, Desa Pango, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Senin 24 Oktober 2016.

"SURA bukanlah lembaga yang baru lahir selama kampanye. SURA sudah ada sejak konflik. SURA basis dayah yang menentang agresi militer di Aceh. Sama seperti SIRA dan SMUR," kata Teungku Zulkifli.

"Usai damai, kita menjauhkan diri dari politik. Namun sejak awal 2016, beberapa ulama kharismatik meminta kita kembali tampil. Ini karena kondisi Aceh hari ini sudah rentan konflik serta penyimpangan akidah. Kita ingin Aswaja membumi di Aceh. Salah satu yang komit berjuang untuk tegaknya Aswaja di Aceh adalah Mualem. Atas dasar ini kita mendukung Mualem," ujar Teungku Zul.

Dalam SURA, katanya, bukan hanya santri tapi juga sejumlah ekskombatan yang dulunya pernah mondok di dayah-dayah.

"Selama ini kita menjauhi politik. Namun hasil musyawarah bersama, kini kita tampil kembali. Terserah tanggapan politisi, terutama yang berseberangan, terhadap SURA. Kami tak peduli. Kami akan tetap istiqamah untuk memenangkan Mualem-TA Khalid. Kami menilai marwah Aceh ada di tangan Mualem saat ini," ujarnya lagi.

Minggu, 23 Oktober 2016

Banda aceh - Cucu Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah, Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam meminta kepada Mualem agar selalu diberikan kesehatan dan keberkatan dalam menjalankan tugas pemerintahan. Wanita paruh baya yang kini sudah menetap di Mataram, Lombok ini berharap agar Mualem harus benar-benar dapat menjalankan roda pemerintahan di Aceh ini dengan amanah.

Hal ini dikatakan Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam saat menghadiri zikir akbar dan doa bersama anak yatim bersama keturunan raja-raja se-Aceh di kompleks makam Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Minggu, 23 Oktober 2016.

“Lon meudoa bak Allah peu nyang geucita-cita le gata beujeut keu nyata. Cuma lon berharap keu gata seubagoe aneuk lon beuna neuhiroe aneuk yatim dan neupeumulia alim ulama. Beu ek meugisa lom marwah raja-raja Aceh lagee sot (Saya berdoa kepada Allah apa yang Anda cita-citakan menjadi nyata. Cuma saya berharap kepada Anda sebagai anakku agar peduli kepada anak yatim dan memuliakan alim ulama. Harus bisa mengembalikan marwah raja-raja Aceh seperti dulu lagi ),” ujar Teungku Putro Safiatuddin Nur Alam kepada Mualem.

Dalam sambutannya, Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam juga berharap kepada Pemerintah Aceh agar dikemudian hari nanti bisa mengurus dan membawa pulang kembali keturunan cucu-cucu Kesultanan ke Aceh. Pasalnya, katanya lagi, selama ini banyak sekali cucu-cucu Kesultanan Aceh yang masih berada di luar Aceh dengan kondisi memprihatinkan.

“Lon lakee bak Pemerintah Aceh beu geutem uroh dan puwoe lon u Aceh lom agar lon jeut jak saweu ngon meudoa bak kubu ureueng chik sinoe. (Saya minta kepada Pemerintah Aceh agar mau mengurus dan memulangkan saya kembali ke Aceh agar saya bisa berziarah dan berdoa di makam orang tua kami disini,” ujar Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam.

Sementara itu, Mualem meminta doa restu kepada Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam agar senantiasa diberikan keberkatan dan kesehatan. Sebelum berpamitan, mantan pucuk pimpinan GAM ini juga meminta agar senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalankan segala amanah untuk kedepan, ajaran islam harus tegap di aceh, hukum islam dan untuk perjuangan bangsa ini, jangan sampai terkecoh dalam hal lain, yang merumitkan persatuan kami yang dulu, tujuan kami yang dulu, dan untuk tujuan kita di masa depan rakyat aceh.

“Uloen lakee izin doa bak Ummi beu ek lon peutrok amanah nyoe, INSYAALLAH. Ujarnya.

Categories

Unordered List

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget